Halaman

Visit Hanumrais.com
Soft selling adalah salah satu teknik marketing dengan pendekatan halus untuk menarik minat customer dalam menawarkan jasa maupun produk tanpa merasa dipaksa. Hal ini tentu berbeda dengan hard selling yang menonjolkan produk dan menawarkannya secara langsung.

Teknik soft selling adalah salah satu metode pemasaran andalan untuk menciptakan penjualan dalam jangka waktu lama dengan pelanggan yang loyal.

Kedua teknik pemasaran ini sangat umum dilakukan, namun tentunya ada perbedaan diantara keduanya yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan strategi pemasaran. Lalu apa perbedaan soft selling vs hard selling? Yuk simak penjelasannya!
 

Perbedaan Soft Selling vs Hard Selling


Apa itu Soft Selling dan Bedanya dengan Hard Selling

Meski sama-sama memiliki tujuan yang sama yakni menciptakan angka penjualan, namun teknik soft selling dan hard selling memiliki perbedaan yang mencolok. Mengetahui apa itu soft selling dan hard selling merupakan langkah awal sebelum memutuskan teknik marketing yang akan Anda pilih.

Selain itu, beda hard selling dan soft selling pun dapat Anda jadikan pertimbangan untuk memilih teknik pemasaran yang sesuai dengan bisnis model atau jenis industri dan tujuan marketing yang anda inginkan.

Berikut perbedaan Soft Selling dan Hard Selling yang penting untuk Anda ketahui:
 

1. Promosi yang Dilakukan


Komunikasi dalam soft selling bertujuan untuk meningkatkan rasa penasaran konsumen mengenai produk yang dijual.

Dalam konten soft selling info highlight produk yang menarik minat konsumen wajib disisipkan untuk memantik rasa penasaran. Bahkan pemberian sampel pun kerap dilakukan untuk menjawab rasa penasaran konsumen akan produk yang dijual.

Berbeda dengan soft selling, hard selling menggunakan bahasa agresif seperti menawarkan diskon besar-besaran, atau embel-embel hanya hari ini cukup menjadi pembeda antara kedua teknik marketing tersebut.
 

2. Jangka Waktu Penjualan


Fokus penjualan soft selling adalah penjualan jangka panjang dengan menyasar untuk mendapatkan pelanggan loyal. Dalam prosesnya, sales berusaha untuk memahami kebutuhan konsumen untuk menemukan highlight produk yang tepat.

Komunikasi yang baik dan dipahami konsumen adalah andalan dalam soft selling. Contoh iklan soft selling dapat Anda lihat pada iklan yang mendeskripsikan bagaimana suatu produk dapat mengatasi permasalahan konsumen. Tentunya penjelasan tersebut membutuhkan waktu untuk menciptakan angka penjualan dengan metode ini.

Sedangkan hard selling umumnya memiliki target penjualan yang cepat, karenanya bahasa komunikasi "hanya hari ini" umumnya cocok dilakukan untuk menggaet pelanggan.
 

3. Potensi Penjualan


Penawaran agresif pada hard selling menghadirkan potensi penjualan yang lebih tinggi dalam jangka waktu pendek. Transaksi ini umumnya hadir karena promo fantastis yang ditawarkan, meski tentu saja tingkat engagement terhadap brand biasanya hanya bersifat sementara.

Disisi lain dengan teknik soft selling, tingkat engagement umumnya lebih tinggi dan menghadirkan konsumen loyal meski potensi penjualannya lebih rendah untuk jangka waktu yang pendek.
 

4. Hubungan Pelanggan dan Brand


Penjualan agresif pada hard selling cenderung menghadirkan konsumen yang hanya datang atau melakukan transaksi pada saat ada promo saja.

Sedangkan hubungan pelanggan dan brand pada teknik pemasaran soft selling mampu menciptakan ikatan yang cukup kuat, jika salesperson mampu membaca dengan jeli kebutuhan konsumen.
 

5. Bidang Industri


Teknik penggunaan strategi hard selling atau soft selling pun dipengaruhi bidang industri. Industri dengan produksi yang cepat seperti penjualan mobil, produk ritel dan telemarketing umumnya memilih untuk menggunakan teknik hard selling,

Sedangkan industri yang sangat memperhatikan engagement antara pelanggan dan brand seperti konsultan, manufaktur, content marketing, konstruksi, dan perusahaan arsitek lebih cocok dengan strategi soft selling.

Industri tersebut membutuhkan waktu untuk memahami kebutuhan pelanggan dan untuk menanamkan branding pada customer.
 

Contoh Iklan Soft Selling


Berikut contoh soft selling pada konten sosial media yang dapat memberikan gambaran mengenai teknik marketing ini sepenuhnya:

"Cuaca Jakarta belakangan ini tidak baik-baik saja.

Debu polusi dan panas mentari kerap jadi sahabat sehari-hari.

Jangan lupa untuk proteksi diri dengan penuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Anda dapat mengandalkan Pristine 8+ untuk ini.

Pristine 8+ merupakan air mineral dengan pH tinggi yang cocok untuk menetralisir pH tubuh Anda. Tak hanya pH Pristine 8+ pun mampu melakukan detoksifikasi pada tubuh Anda dan melancarkan pencernaan.

Ayo jaga diri dengan konsumsi Pristine 8+ setiap hari!"


Selain contoh di atas, contoh soft selling yang mudah ditemukan dapat Anda lihat dalam postingan influencer yang umumnya menceritakan pengalaman mereka dalam menggunakan produk dan memberikan info mengenai kelebihan produk yang ditampilkan.

Umumnya contoh iklan soft selling tersebut mampu menarik perhatian dan rasa penasaran pelanggan akan produk yang ditampilkan.

Demikian 5 perbedaan teknik soft selling dan hard selling beserta contohnya. Jika Anda ingin membuat iklan yang lebih soft selling, Anda bisa melakukannya bersama StickEarn melalui layanan Plane Advertising.

Dengan beriklan di pesawat terbang melalui StickEarn, brand dapat mendekati konsumen secara lebih halus, sehingga objektif pemasaran tercapai.

Apa itu Soft Selling dan Bedanya dengan Hard Selling

Soft selling adalah salah satu teknik marketing dengan pendekatan halus untuk menarik minat customer dalam menawarkan jasa maupun produk tanpa merasa dipaksa. Hal ini tentu berbeda dengan hard selling yang menonjolkan produk dan menawarkannya secara langsung.

Teknik soft selling adalah salah satu metode pemasaran andalan untuk menciptakan penjualan dalam jangka waktu lama dengan pelanggan yang loyal.

Kedua teknik pemasaran ini sangat umum dilakukan, namun tentunya ada perbedaan diantara keduanya yang dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan strategi pemasaran. Lalu apa perbedaan soft selling vs hard selling? Yuk simak penjelasannya!
 

Perbedaan Soft Selling vs Hard Selling


Apa itu Soft Selling dan Bedanya dengan Hard Selling

Meski sama-sama memiliki tujuan yang sama yakni menciptakan angka penjualan, namun teknik soft selling dan hard selling memiliki perbedaan yang mencolok. Mengetahui apa itu soft selling dan hard selling merupakan langkah awal sebelum memutuskan teknik marketing yang akan Anda pilih.

Selain itu, beda hard selling dan soft selling pun dapat Anda jadikan pertimbangan untuk memilih teknik pemasaran yang sesuai dengan bisnis model atau jenis industri dan tujuan marketing yang anda inginkan.

Berikut perbedaan Soft Selling dan Hard Selling yang penting untuk Anda ketahui:
 

1. Promosi yang Dilakukan


Komunikasi dalam soft selling bertujuan untuk meningkatkan rasa penasaran konsumen mengenai produk yang dijual.

Dalam konten soft selling info highlight produk yang menarik minat konsumen wajib disisipkan untuk memantik rasa penasaran. Bahkan pemberian sampel pun kerap dilakukan untuk menjawab rasa penasaran konsumen akan produk yang dijual.

Berbeda dengan soft selling, hard selling menggunakan bahasa agresif seperti menawarkan diskon besar-besaran, atau embel-embel hanya hari ini cukup menjadi pembeda antara kedua teknik marketing tersebut.
 

2. Jangka Waktu Penjualan


Fokus penjualan soft selling adalah penjualan jangka panjang dengan menyasar untuk mendapatkan pelanggan loyal. Dalam prosesnya, sales berusaha untuk memahami kebutuhan konsumen untuk menemukan highlight produk yang tepat.

Komunikasi yang baik dan dipahami konsumen adalah andalan dalam soft selling. Contoh iklan soft selling dapat Anda lihat pada iklan yang mendeskripsikan bagaimana suatu produk dapat mengatasi permasalahan konsumen. Tentunya penjelasan tersebut membutuhkan waktu untuk menciptakan angka penjualan dengan metode ini.

Sedangkan hard selling umumnya memiliki target penjualan yang cepat, karenanya bahasa komunikasi "hanya hari ini" umumnya cocok dilakukan untuk menggaet pelanggan.
 

3. Potensi Penjualan


Penawaran agresif pada hard selling menghadirkan potensi penjualan yang lebih tinggi dalam jangka waktu pendek. Transaksi ini umumnya hadir karena promo fantastis yang ditawarkan, meski tentu saja tingkat engagement terhadap brand biasanya hanya bersifat sementara.

Disisi lain dengan teknik soft selling, tingkat engagement umumnya lebih tinggi dan menghadirkan konsumen loyal meski potensi penjualannya lebih rendah untuk jangka waktu yang pendek.
 

4. Hubungan Pelanggan dan Brand


Penjualan agresif pada hard selling cenderung menghadirkan konsumen yang hanya datang atau melakukan transaksi pada saat ada promo saja.

Sedangkan hubungan pelanggan dan brand pada teknik pemasaran soft selling mampu menciptakan ikatan yang cukup kuat, jika salesperson mampu membaca dengan jeli kebutuhan konsumen.
 

5. Bidang Industri


Teknik penggunaan strategi hard selling atau soft selling pun dipengaruhi bidang industri. Industri dengan produksi yang cepat seperti penjualan mobil, produk ritel dan telemarketing umumnya memilih untuk menggunakan teknik hard selling,

Sedangkan industri yang sangat memperhatikan engagement antara pelanggan dan brand seperti konsultan, manufaktur, content marketing, konstruksi, dan perusahaan arsitek lebih cocok dengan strategi soft selling.

Industri tersebut membutuhkan waktu untuk memahami kebutuhan pelanggan dan untuk menanamkan branding pada customer.
 

Contoh Iklan Soft Selling


Berikut contoh soft selling pada konten sosial media yang dapat memberikan gambaran mengenai teknik marketing ini sepenuhnya:

"Cuaca Jakarta belakangan ini tidak baik-baik saja.

Debu polusi dan panas mentari kerap jadi sahabat sehari-hari.

Jangan lupa untuk proteksi diri dengan penuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Anda dapat mengandalkan Pristine 8+ untuk ini.

Pristine 8+ merupakan air mineral dengan pH tinggi yang cocok untuk menetralisir pH tubuh Anda. Tak hanya pH Pristine 8+ pun mampu melakukan detoksifikasi pada tubuh Anda dan melancarkan pencernaan.

Ayo jaga diri dengan konsumsi Pristine 8+ setiap hari!"


Selain contoh di atas, contoh soft selling yang mudah ditemukan dapat Anda lihat dalam postingan influencer yang umumnya menceritakan pengalaman mereka dalam menggunakan produk dan memberikan info mengenai kelebihan produk yang ditampilkan.

Umumnya contoh iklan soft selling tersebut mampu menarik perhatian dan rasa penasaran pelanggan akan produk yang ditampilkan.

Demikian 5 perbedaan teknik soft selling dan hard selling beserta contohnya. Jika Anda ingin membuat iklan yang lebih soft selling, Anda bisa melakukannya bersama StickEarn melalui layanan Plane Advertising.

Dengan beriklan di pesawat terbang melalui StickEarn, brand dapat mendekati konsumen secara lebih halus, sehingga objektif pemasaran tercapai.

Tidak ada komentar