Bulan Terbelah di Langit Eropa, Available Now...

Temukan Kisah Spiritual Hanum-Rangga di Amerika

Kisah petualangan Hanum dan Rangga dalam 99 Cahaya di Langit Eropa berlanjut hingga Amerika. Kini mereka diberi dua misi berbeda. Namun, Tuhan menggariskan mereka untuk menceritakan kisah yang dimohonkan rembulan. Penasaran?

Sudah punya Novel Berjalan diatas Cahaya?

“Seru! Jalan-jalan ke Eropa dan dapat kisah inspiratif ‘hanya’ seharga buku ini. Beneran!”, kata K.H. Yusuf Mansur

MILIKI SELURUH KOLEKSI HANUM dan RANGGA

Buat Kamu yang pengen memiliki koleksi novel karya hanum dan rangga, pemesanan bisa loh dilakukan melalui web ini. GRATIS ongkir utk wilayah pulau Jawa. Buruannnnnn !!!


PENGUMUMAN: "Mau Ketemu Hanum dan Rangga? Cek di Meet & Greet ya -HR- Pengen punya koleksi novel HR yang eksklusif? Pesan sekarang melalui web ini. -HR- Jangan Lupa saksikan 99Cahaya The Final Edition 30 oktober 2014 di bioskop XXI ya ... -HR-

Nov 7, 2014

Karena Saya Tidak Mengidap Alzheimer


     Seperti saya mengingat benar tanggal kelahiran saya, begitu pula saya ingat benar Bapak mengatakan kepada saya –yang tengah menangis tergugu dipojok ruang perawatan RS PKU Muhammadiyah Solo : ’’Everything would be all right honey…Lihatlah…Simbah saja sudah tersenyum-senyum’’.

     Saya tersenyum getir. Would be all right. Artinya hanya ‘akan’, suatu andai-andai. Ini sedang tidak baik. Saya tahu Bapak, sedang membesarkan hati saya. Saya menatap Simbah, nenek saya, Sudalmiyah Syuhud Rais, ibunda Bapak yang gemar mewiru jarik bawahannya sambil ia terus bertanya : ’’Kapan saya bisa pulang ke rumah, Mien? Apa rumahnya sudah selesai direnovasi?’’. Nenek menanyakan itu puluhan kali dalam sehari sebanyak ia menanyakan apakah dirinya sudah sholat fardhu atau belum. ’’Aku sudah sholat apa belum, ya?’’, sebutnya beberapa kali walaupun ia baru 15 menit yang lalu menunaikannya.
Penyakit itu, Alzheimer, telah merenggut sedikit memori di otaknya. Ia tak bisa mengingat-ingat lagi apa yang baru saja terjadi, atau sesuatu yang tak menancap erat di lobus-lobus otaknya.

     Penyakit itu laksana geledek yang menyambar diriku, karena ia tak pernah lagi mengenaliku, cucunya yang akan menjadi dokter satu satunya di keluarga. Namun penyakit itu juga laksana embun di pagi hari, karena ia tak akan pernah mengingat bahwa rumahnya yang sederhana, pernah dirusak dan dihancurkan massa tak bersisa. Sungguh Allah telah memberikan anugerah Alzheimer untuknya. Setiap hal yang penting akan ditulisnya, dan aku adalah juru tulisnya. Jika ia lupa, ia kemudian membuka-buka buku tulisku. Tentang apa saja yang sudah terjadi hari ini. Tentu, aku tidak akan memasukkan satu kejadian kelam, teror terburuk sepanjang hidupnya. Teror yang oleh kehendakNya dibuat bagai debu yang menempel di wajah, terbawa angin.

     ’Ini siapa?’’, tanya Bapak menunjuk dirinya. ’’Emboh’’, jawab nenek sambil tertawa. Bapak tahu nenek sedang bercanda pura-pura tidak mengingat anaknya. Namun di hati Bapak, ada rongrongan rasa yang tak terkias ketika harus menjawab, ’’Rumah Ibu itu sudah terlalu tua, lagi didandani sama Rozaq niko’’, sambil Bapak menunjuk Rozaq, adiknya.
Aku tahu hati Bapak teriris iris, karena yang terjadi, rumah tua itu justru sedang dibabat palu, parang, golok hingga menghabisi seluruh kenangan manis masa kecilnya. Sama sekali bukan rekonstruksi apa lagi renovasi. Dan karena itu, nenek harus diungsikan di tempat lain hingga berminggu-minggu.
Dua tahun kemudian, nenek meninggal dunia. Bapak mengatakan dalam bisikan terakhir setelah ibundanya menutup mata selamanya, ’’Rumah Ibu yang indah sudah selesai direnovasi sama Gusti Allah. Ibu dipersilahkan pulang. Pulang selamanya Bu’’.

***

     Itu adalah 15 tahun yang lalu. Dan tepatnya 6 November 2014 di pagi ini, bayang-bayang nenek yang dipapah oleh Pak Rozaq ke mobil untuk diungsikan, mempersilahkan segerombolan massa beringas memuaskan nafsunya untuk beranarki, hadir sejelas-jelasnya dalam memori otakku.

     Sayang, seribu sayang. Mengapa otak mengirim saya ke sebuah alamat yang tak ingin kuingat-lagi: Teror. Mengapa Allah tidak memberi saya penyakit Alzheimer.

     Pagi itu, peluru melesat di jok mobil Bapak. Ia tidak nyasar. Ia dilesatkan sepenuh jiwa ke satu titik: tempat duduk Amien Rais, dan perjalanannya harus menempuh tanki bensin. Semua orang tahu, ia direncanakan untuk meledak. Namun entah mengapa, ia tak sanggup dan hilang diantara dudukan mobil yang empuk. Ia tahu, ada Dzat yang memejankan usahanya. Atau mungkin ia sadar, 'beginikah cara yang benar membungkam manusia yang terlalu berani berbicara?'.

     Peluru itu tak main-main. Dari jarak 8 meter di luar pagar, ia berdesing kencang, sekencang angin pada dini hari yang memberi isyarat, namun tak terbaca oleh penjaga rumah, ataupun bagi penerima pesan seharusnya, yang tengah tertidur lelap. Pesan itu begitu jelas bagi Bapak dan keluarga. Pesan bahwa kami, tak akan dengan mudah ’’membeli’’ rasa aman di negeri ini.

     Rasa aman itu, harganya telah dinaikkan berjuta pangkat. Rasa aman itu produknya telah diembargo oleh sebuah peluru, yang jika melesat menembus manusia, organ tubuh pastilah sekejap beremah-remah. Rasa aman itu sudah dilabeli hanya untuk orang-orang tertentu yang masih menjangkau harganya, karena mulutnya tertutup rapat.
 
     Harga rasa aman itu memang bisa tak perlu dibeli lagi. Tak perlu ditawar lagi. Tapi tentu dengan satu dan satu-satunya syarat: Allah memberi saya dan seluruh keluarga saya penyakit Alzheimer.
Syarat itu begitu berat rasanya.
Tapi syarat itu gratis, tak berbayar. Jika Allah menghendakinya.

     Dengan si demensia Alzheimer, saya bisa berbicara sesuka hati saya. Dengan Alzheimer, saya akan mudah menggagas ide dan kreativitas tanpa batas. Dengan Alzheimer saya akan berkelana sejauh yang saya inginkan tanpa beban. Mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Tanpa rasa takut. Tanpa rasa khawatir. Tanpa rasa trauma. Tanpa tangan dan badan bergetar. Bagai orang yang menikmati rasa sehat. Semenikmat itulah barangkali rasa lupa yang diciptakan Allah bagi jiwa-jiwa yang tegar.

     Kini, saya harus menerima takdir, bahwa memang Allah tidak menasibkan saya berteman dengan Alzheimer. Apalagi memeluk erat dirinya. Allah menginginkan saya bersama orang-orang beriman, yang tidak ditakdirkanNya menjadi pikun, menaruh harapan besar kepada negeri tercinta ini. Harapan tentang kebaikan dan tercapainya rasa aman bagi setiap warga negara di dalamnya. Bahkan berharap rasa aman yang terlalu mahal itu, tolonglah digratiskan.

     Ini bukanlah suara saya semata-mata. Ini suara anak bangsa yang tetap berdiri tegap dengan hormat kepada negeri dan pengampu bangsa besar ini. Suara anak bangsa yang percaya, sebesar kepercayaannya terhadap Tuhan, bahwa hukum dan konstitusi di bumi pertiwi akan tegak bagi siapapun tak pandang bulu dan tingkat. Saya dan jutaan anak bangsa tak ingin mengidap Alzheimer hanya untuk memberi nasehat tulus yang terbaik bagi bangsa tercinta ini. Alzheimer tetaplah teman yang tak baik bagi perkembangan jiwa dan raga bangsa ini. Karena saya yakin, Alzheimer akan selalu membawa penderitanya berakhir dengan kematian.

     Saya yakin, pengampu bangsa ini akan mengungkap siapa pemilik peluru pagi itu. Dan peluru-peluru yang lain mungkin, yang menciutkan kebenaran.

     Saya masih terlalu yakin orang-orang baik akan membantu bangsa ini. Jangan pernah hempaskan keyakinan ini.

Salam.

Hanum Salsabiela Rais.


Oct 8, 2014

Meet & Greet with Hanum and Rangga

Hallo Sahabat Cahaya.
Buat kamu yang sedang berada di lokasi dibawah ini, Yuk ikutan acara MEET and GREET nya Hanum Rais.

Check it out , skejulnya ya...
Gak bakal nyesal ikutin acaranya.


- 8 nov 2014 : Muslimah Days Fakultas Teknik UGM yogyakarta

- 9 nov 2014 : Talkshow Inspiratif 2014 Univ. Airlangga Surabaya

- 19 dan 21 nov 2014 : World Muslimah Forum, East Parck hotel Jogjakarta

- 30 Nov 2014 : UNY Fair yogyakarta

- 13 des 2014 : bedah buku BTDLA and carity for gaza di UPI Bandung


See you


Oct 3, 2014

Selamat kepada reviewer BTdLA tahap 2

Akhirnya ini dia  yang ditunggu-tunggu pemenang review Bulan Terbelah di Langit Amerika tahap 2 sudah di umumkan oleh gramedia.



Selamat ya !!!
Kepada @Rosa_Alrosyid , @seps4e , @417154, @agoeng_sis @yervihesna dan @safrida0202.
Tunggu hadiahnya akan dikirim oleh gramedia .

Buat Sahabat Cahaya lainnya tenang saja...
Tunggu program lain dari Hanum Rais yaa....

Oct 1, 2014

99CDLE - The Final Edition

Ketinggalan melihat Film 99 Cahaya Di Langit Eropa? Jangan lewatkan kesempatan emas ini, 99CDLE - The FInal Edition.
Ajak seluruh keluarga karena ceritanya sangat menyentuh..



SPONSORED BY



MOVIE TRAILER

Sep 29, 2014

Miliki Bulan Terbelah diLangit Amerika

Sudah punya buku terbaru karya Hanum dan Rangga?
Bulan Terbelah di Langit Amerika.
Mengapa harus punya? Karena buku ini membuat kamu akan ketagihan dari halaman pertama hingga terakhir. Bahkan bisa menjadi lupa daratan seperti Sahabat Cahaya dibawah ini hehehe... big grin




Gak percaya? Coba deh liat tingkah laku dua pembaca BTdLA yang tertangkap kamera .... atau sengaja menangkapkan dirihappy


Lupa daratan, Lupa Lautan untungnya belum hilang kesadaran :)
Masih banyak lagi kehebohan lainnya. Kamu bisa lihat di timeline twitter @BulanTerbelah


Kalau Sahabat Cahaya masih sempat, ikutin yuk review buku Bulan Terbelah. Info baca disini aja ya.... 

Mau tau apa kata mereka tentang Bulan Terbelah atau karya Hanum & Rangga lainnya? Bisa klik disini


Nah, Tunggu apalagi, pesan sekarang juga. Klik disini.

Simak trailer BTdLA